Jadi, pada akhir tahun kemaren (baca: beberapa hari lalu) banyak orang yang menge-tweet resolusi tahun baru mereka di twitter dengan hashtag #resolusi2011. Dan seorang temen, senior di kampus tepatnya, membuat sebuah resolusi yang mengusik gw. Demikian gw kutip dari akun twitter gw.
@sintaries: RETWEET! @Fakhriy_D: 2)Ga akan buang sampah sembarangan lagi...#resolusi2011
Dan ya, sesuai judul, yang bakal gw bahas disini dalah sampah.

Sebenernya niatan untuk membuat post tentang sampah ini datang sebelum tweet resolusi itu terbuat, hanya saja dengan adanya tweet itu, semakin mantap niat gw untuk membuat post ini.
Dan yang pengen gw bahas bukanlah soal resolusinya dan apa yang bakal gw lakuin soal sampah, tapi gw cuma pengen bahas sedikit pemikiran gw tentang sampah.
Sampah, reaksi pertama yang timbul ketika dengar kata ini? Mengernyit? Tertawa? Well, yang pengen gw bilang adalah bahwa sampah bukan sekedar sampah. Yah, yang pengen gw bahas disini adalah sampah sebagai masalah. Ya, masalah.
Masalah yang dari dulu sampai sekarang masih sulit dipecahkan, dan konyolnya, masalah yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Yang pengen gw bahas bukanlah sampah organik yang bisa terurai dengan mudah, melainkan sampah non-organik (khusunya plastik) yang sulit ditanggulangi karena tidak mudah diuraikan oleh bumi sendiri juga oleh manusia.
Dan yang sekarang banyak dicari adalah solusi, solusi untuk mengatasi tumpukan sampah plastik itu. Solusi yang banyak muncul sekarang diantaranya; Daur ulang, Plastik yang mudah terurai, dsb. Efisienkah? Mengingat masih banyak tumpukan sampah plastik lain yang mengendap di tempat pembuangan sampah terdekat tanpa tahu harus diapakan? Membakar jelas bukan solusi, asapnya bisa-bisa bikin udara di bumi makin hancur.
Lantas? Entah kenapa dari awal yang terpikir oleh gw adalah; kenapa harus menggunakan plastik? (Paling banyak)untuk memudahkan membawa barang? Atau sebagai package dari banyak produk? Atau bahkan sebagai bahan utama peralatan rumah tangga?

Gw pikir kalau si-penemu-plastik yang gw ga tau siapa itu tau apa yang telah disebabkan oleh temuannya, mungkin dia bakalan nyesel nemuin plastik. Secara dia udah jadi penyumbang terbanyak kerusakan sekaligus sampah (baca: masalah) di bumi.
Kembali ke pertanyaan kenapa harus menggunakan plastik? Kita bisa mengurangi sampah plastik (non-organik) ini dengan tidak menggunakannya sama sekali kan? Maksud gue, ngga perlu makanan di-package sedemikian rupa menggunakan bungkus plastik. Orang bisa aja langsung makan di tempat dia beli makanan itu, ditambah langsung ada dua keuntungan. Tidak ada sampah package, tidak perlu kantong plastik untuk membawa makanan ber-package itu. Lagi, pasti ada yang nanya gimana dengan barang bukan makanan? Deterjen misalnya? Gampang, setiap orang bisa beli satu tempat untuk deterjen itu yang sebisa mungkin tidak terbuat dari bahan plastik. Logam, misalnya. Dan ketika barang tersebut habis, kita bisa pergi ke depot yang dibuar oleh si pabrik untuk kita mengisi ulang kebutuhan kita itu (deterjen, shampoo, dsb). Lagi, dua keuntungan.
Lantas kenapa hal sesimpel itu tidak terpikirkan oleh orang-orang pintar yang belajar dibidang itu? Bukan tidak terpikirkan, tapi sekedar karena alasan "ketidak-praktisan". Jawaban gw, untuk bumi yang lebih baik, "praktis" itu bukan pilihan kan?






